Artikel
Yudha Adhyaksa
03 Nov 2024
Terkadang kita menganggap sepele urusan bisnis dengan tidak mengkaitkannya dengan urusan keseharian. Bisnis ya bisnis, urusan pribadi beda lagi. Ini adalah anggapan yang tidak tepat.
Jika Anda mau berbisnis syariah, maka perilaku sehari-hari harus dibuat syar’i juga agar selaras. Alangkah lebih baik jika kehidupan pribadi pegawainya juga diselaraskan agar tidak mencemari keberkahan bisnis Anda.
Apabila bisnis syar’i nya tidak menggunakan modal pinjaman ribawi maka harus diikuti dengan keseharian si pemilik dan juga pegawainya untuk melepaskan diri dari riba seutuhnya.
Jangan sampai ketika sedang berbisnis yang syar’i, pemilik maupun pegawai malah sedang menggunakan Kartu Kredit riba atau mengambil Kredit Pemilikan Rumah riba secara diam-diam.
Seorang pengusaha terkadang tidak tahu kewajibannya untuk berzakat apabila hasil bisnisnya sudah mencapai nisab (nilai barang untuk dizakatkan) dan haul (waktu zakat). Padahal secara pribadi ia sudah bersedekah, infaq dan zakat.
Nah, agar bisnis semakin berkah, Anda harus membayar zakat perdagangan. Pelajarilah lebih serius tata caranya agar Anda dapat menghitung zakat perdagangan secara tepat.
Baik rekening bisnis atau pribadi di Bank harus bebas bunga (riba).
Mintalah Customer Service Bank menghentikan pemberian bunga. Anda boleh memanfaatkan Bank tapi sebatas produk halalnya saja, untuk bertransaksi dengan pihak luar dan tempat darurat penyimpanan uang.
Dalam lingkungan bisnis, saat bertemu dengan konsumen atau mitra bisnis atau supplier, seorang pengusaha terkadang menjaga citra dengan tidak merokok di depannya.
Sementara di belakangnya (kesehariannya), ia merokok seperti biasa. Ini jelas salah dan harus berhenti secara total bukan untuk menjaga reputasi didepan konsumen, mitra bisnis, supplier, tapi karena rokok adalah benda haram yang membahayakan kesehatan. Rekrutlah juga pegawai yang tidak merokok.
Dalam bisnis tidak boleh menyuap petugas perizinan atau orang dalam agar mau memesan produk Anda. Ini risywah (suap) dan diharamkan.
Dalam keseharian pun harus sama; tidak boleh menyuap polisi ketika melanggar rambu lalu lintas. Bayarlah tilang di pengadilan atau mengirim uang tilang ke rekening negara.
Diatas hanya contoh dan sesungguhnya masih banyak lagi perilaku bisnis yang harus diselaraskan dengan keseharian supaya terjaga keberkahannya.
Menjalankan bisnis syariah bukan hanya tentang bagaimana transaksi bisnis dilakukan. Bagi pengusaha yang ingin menerapkan prinsip syariah secara konsisten, penting juga memahami bagaimana prinsip tersebut diterapkan dalam pengelolaan keuangan, hubungan dengan pihak lain, dan kehidupan sehari-hari.
Di SekolahUMKM.com, kamu bisa mempelajari bisnis dari berbagai sisi, mulai dari mindset, ide bisnis, marketing, permodalan, keuangan, hingga pengelolaan SDM. Tersedia 500+ kelas dengan akses hanya Rp50.000/bulan.
Bisnis dan kehidupan pribadi tidak selalu dapat dipisahkan ketika seseorang ingin menjalankan usaha berdasarkan prinsip syariah. Konsistensi dapat dimulai dari menghindari transaksi ribawi, memahami kewajiban zakat perdagangan, memperhatikan penggunaan rekening, menjaga perilaku, serta menghindari suap dalam berbagai aktivitas.
Lima hal tersebut hanyalah contoh. Intinya, prinsip bisnis yang diyakini perlu diterapkan secara konsisten dalam berbagai aktivitas, bukan hanya ketika berhadapan dengan konsumen atau mitra bisnis. Dengan begitu, pengusaha dapat membangun bisnis yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memperhatikan nilai, etika, dan tanggung jawab.
Dalam perspektif artikel ini, menjalankan bisnis syariah idealnya disertai konsistensi nilai dalam kehidupan sehari-hari. Namun, penerapan setiap persoalan tetap perlu dipahami berdasarkan ketentuan syariah yang relevan dan kondisi masing-masing.
UMKM dapat mulai dari hal-hal yang paling berkaitan langsung dengan bisnis, seperti sumber modal, akad dan transaksi, kejujuran dalam pemasaran, pembayaran kewajiban, hubungan dengan karyawan, serta menghindari praktik yang merugikan pihak lain.
Tidak otomatis. Yang perlu diperhatikan adalah produk, akad, dan mekanisme yang digunakan. Pemilik UMKM perlu memahami apakah rekening atau layanan yang digunakan mengandung unsur yang bertentangan dengan prinsip syariah.
Bangun proses bisnis yang transparan dan ikuti prosedur resmi dalam perizinan, pengadaan, maupun penjualan. Jangan memberikan pembayaran atau keuntungan pribadi kepada pihak tertentu untuk mendapatkan keputusan yang seharusnya dilakukan secara resmi.
Ya. Perilaku pemilik dan karyawan dapat memengaruhi kepercayaan konsumen, mitra, dan lingkungan bisnis. Karena itu, nilai yang dikomunikasikan melalui brand sebaiknya selaras dengan perilaku nyata dalam menjalankan bisnis.
Yudha Adhyaksa, founder SekolahUMKM dan konsultan bisnis. Berpengalaman 12 tahun di 4 bank internasional, termasuk sebagai Manager Asia. Berpengalaman dalam tata kelola korporasi, manajemen risiko, ekspor-impor, financial crime, dan transformasi proses bisnis. Melalui SekolahUMKM, ia membawa standar bisnis korporasi ke UMKM agar berkembang dengan sistem bisnis yang kuat.
Artikel
Setelah belajar mengenai jenis-jenis riba pada artikel ini, kamu harus paham dulu apa itu barang ribawi. Salah satu jenis riba memang disebabkan oleh barter atau jual beli barang ribawi. Barang sudah...
Yudha Adhyaksa
19 Feb 2024
Bertahun-tahun lalu, saya bekerja di sebuah Bank di gedung tinggi di bilangan Sudirman, Jakarta Selatan. Saya ingat sekali, waktu itu sedang dikumandangkan adzan Ashar. Saya tengok keluar jendela d...
Yudha Adhyaksa
16 Feb 2024
Pihak yang terkena dosa riba bukan hanya penyetor atau orang yang melakukan transaksi saja, tetapi juga saksi dan pencatatnya. Astaghfirullah. Jangan sampai kita masuk ke dalam lubang dosa seperti itu...
Yudha Adhyaksa
15 Feb 2024
Daftar Sekarang
Dapatkan semua Kelas baru gratis
dengan berlangganan