background

Artikel

Gaji Riba, Bolehkah Dipakai Saat Proses Hijrah?

Yudha Adhyaksa

16 Dec 2025

Cover

TANYA SYARIAH

Lalu bagaimana dengan org yang sudah mengetahui tentang riba namun belum bisa langsung keluar sehingga selama proses menuju resign masih terus memakan gaji dari uang riba utk sehari2, bagaimana hukum uang yang diperolehnya dan barang2 yang dibeli dg uang riba pada fase itu?

Apakah masuk pokok harta yang bisa dimanfaatkan atau sudah tidak termasuk?

COACH YUDHA ADHYAKSA

Dia hanya boleh memanfaatkan uang gaji ribanya untuk kebutuhan darurat saja. 

Ini sebetulnya sudah dibahas di Instagram saya (yudha_adhyaksa) panjang lebar. 

Singkat cerita, dia tidak boleh memanfaatkan gaji ribanya untuk hal2 diluar kebutuhan pokok, seperti membeli HP baru, rekreasi ke pulau lain / luar negeri sehingga menghambur-hamburkan uangnya, beli kendaraan baru karena tahu gaji riba nya besar. 

Kebutuhan pokok yang dibolehkan memakai gaji ribanya adalah untuk makan minum, listrik, SPP anak dan sebagainya.

Hukum uangnya selama dipakai untuk membeli barang-barang kebutuhan pokok tidak mengapa.

Tapi kalau ada barang bukan kebutuhan pokok yang terlanjur dibeli, ya tinggal bertaubat dan tidak mengulanginya saja. 

Hijrah juga butuh proses, sebagian orang sangat cepat prosesnya, mereka tinggalkan semua hartanya dalam satu waktu, tapi ada juga mereka yang melakukannya secara bertahap.

Paling tidak sudah mau hijrah saja sudah harus bersyukur, karena masih memegang erat hidayah. 

Selanjutnya tinggal memperbaiki apa yang kurang, dan menghabiskan sisa waktunya untuk berdakwah. 

Semoga dengan begitu bisa menghapus dosa masa lalunya.

Pelajari Strategi Hijrah Finansial dari Riba di SekolahUMKM.com

Hijrah dari sumber penghasilan yang mengandung riba membutuhkan proses dan perencanaan agar kebutuhan hidup tetap terpenuhi. Di SekolahUMKM.com dengan biaya Rp50.000/bulan, Anda dapat mempelajari berbagai prinsip bisnis, pengelolaan keuangan, dan strategi membangun penghasilan yang lebih sesuai dengan nilai yang ingin dijalankan.

Kesimpulan

Menurut penjelasan Coach Yudha, seseorang yang sedang dalam proses keluar dari pekerjaan dengan penghasilan riba hanya menggunakan penghasilan tersebut untuk kebutuhan pokok dan darurat, seperti makan, minum, listrik, dan biaya pendidikan anak. Penghasilan tersebut tidak digunakan untuk kebutuhan konsumtif yang bukan pokok, seperti membeli HP baru, rekreasi, atau kendaraan baru hanya karena memiliki penghasilan yang besar.

Jika sebelumnya sudah terlanjur menggunakan uang tersebut untuk membeli barang yang bukan kebutuhan pokok, langkah yang dianjurkan adalah bertaubat dan tidak mengulanginya. Proses hijrah setiap orang dapat berbeda; ada yang mampu meninggalkan semuanya sekaligus, sementara yang lain membutuhkan proses secara bertahap.

Yang terpenting adalah terus memperbaiki diri setelah menyadari kesalahan, mempertahankan niat untuk berhijrah, dan berusaha meninggalkan sumber penghasilan tersebut.

FAQ: Pertanyaan yang Paling Sering Diajukan

Apakah gaji dari pekerjaan yang berkaitan dengan riba boleh digunakan untuk kebutuhan sehari-hari?

Menurut penjelasan Coach Yudha, selama masih dalam proses menuju keluar, penghasilan tersebut digunakan untuk kebutuhan pokok atau darurat seperti makanan, listrik, dan pendidikan anak.

Bolehkah menggunakan gaji tersebut untuk membeli HP baru atau kendaraan?

Tidak untuk kebutuhan yang bersifat konsumtif dan bukan kebutuhan pokok. Menurut Coach Yudha, seseorang sebaiknya tidak menggunakan penghasilan tersebut untuk membeli barang baru hanya karena memiliki kemampuan finansial dari gaji tersebut.

Bagaimana jika sebelumnya sudah terlanjur membeli barang non-kebutuhan dengan uang tersebut?

Menurut penjelasan Coach Yudha, cukup bertaubat dan berusaha untuk tidak mengulanginya. Kesalahan masa lalu menjadi bagian dari proses memperbaiki diri.

Apakah seseorang harus langsung meninggalkan seluruh hartanya ketika mulai hijrah?

Menurut Coach Yudha, proses hijrah setiap orang berbeda. Ada yang mampu meninggalkan semuanya sekaligus, sementara ada pula yang menjalankannya secara bertahap. Yang penting adalah terus memperbaiki apa yang masih kurang dan berusaha meninggalkan sumber penghasilan tersebut.

Apa yang sebaiknya dilakukan setelah mulai menyadari bahaya riba?

Terus memperbaiki diri, berusaha keluar dari sumber penghasilan yang bermasalah, dan mengarahkan sisa waktu serta kemampuan kepada hal-hal yang lebih baik dan bermanfaat.

 

Penulis

Yudha Adhyaksa, founder SekolahUMKM dan konsultan bisnis. Berpengalaman 12 tahun di 4 bank internasional, termasuk sebagai Manager Asia. Berpengalaman dalam tata kelola korporasi, manajemen risiko, ekspor-impor, financial crime, dan transformasi proses bisnis. Melalui SekolahUMKM, ia membawa standar bisnis korporasi ke UMKM agar berkembang dengan sistem bisnis yang kuat.

Artikel

Baca Artikel Lainnya

Thumbnail
Harga Jual Kue Bolu UMKM, Enaknya Berapa Ya?

Sebagai pengusaha muslim pernah tidak Anda merasa bingung mematok harga? Dilema mematok harga sebuah produk sendiri, khawatir terlalu mahal atau murah, kira-kira bisa diterima masyarakat nggak ya?...

Yudha Adhyaksa

07 Dec 2022

Thumbnail
Sedekah Kunci Sukses Pengusaha UMKM

"Bersedekah tidak akan mengurangi harta, “Infaqkanlah hartamu, janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah r...

Yudha Adhyaksa

02 Dec 2022

Thumbnail
5 Bisnis Sampingan Potensi Keuntungan Besar

Bisnis sampingan bisa jadi andalan saat Anda ingin tambahan pendapatan. Bisnis ini sangat beragam, mulai dari yang modal komunikasi, modal teknik marketing, atau modal minim. Beberapa usaha sampingan...

Yudha Adhyaksa

17 Nov 2022

Daftar Sekarang

Ilmu Pengusaha Syariah

Terlengkap

Dapatkan semua Kelas baru gratis
dengan berlangganan

Langganan Sekarang Image